Home BISNIS Angkringan D’MEET, Bisnis Kopi Tak Sepahit Bijinya

Angkringan D’MEET, Bisnis Kopi Tak Sepahit Bijinya

490
0
SHARE
Pembuatan kopi dengan peralatan rok presso. Butuh waktu sekitar 22 detik untuk menciptakan rasa kopi yang pas.(angga/memo)

Minum kopi di era globalisasi dapat dikatakan menjadi sebuah tradisi. Trend dan gaya hidup masyarakat tentang kebiasaan ngopi, seakan tak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Ibarat kata, tiada hari tanpa menengguk secangkir kopi. Berbagai kreasi dan teknologi diciptakan untuk mendapatkan sensasi bagi pecintanya.

Brewing time dalam pembuatan kopi melalui penyajian V60 menentukan cita rasa kopi yang dihasilkan.

Widodo, barista (peracik dan menyajikan kopi kepada pelanggan) di Kedai Angkringan D’MEET di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, sudah meracik kopi sejak 2005. Di balik racikan yang kini sudah banyak dikenal, membutuhkan waktu sembilan tahun. Sebagai bahan percobaan dari karakteristik kopi racikannya, dia selalu menawarkan kepada teman-temannya.

Kopi Robusta asal Dampit Kabupaten Malang. Tampilan kopi lebal tebal dan memiliki rasa pahit yang lebih berasa.(angga/memo)

Secara umum, orang awam menilai kopi hanyalah minuman satu rasa, yaitu  pahit. Pembuatannya hanya melalui tiga proses, yaitu tuang, seduh, dan aduk. Padahal, meskipun berbahan dasar sama, yaitu biji kopi, namun dapat disulap menjadi beberapa karateristik rasa yang berbeda dan hanya dapat dirasakan oleh penikmat kopi.

“Semuanya tergantung cara meracik atau membuatanya. Kalau dalam istilah perkopian adalah brewing. Selain itu juga ada perpaduan antara tingkat kehalusan kopi (grind size), suhu air, dan waktu seduh (brewing time),” jelasnya.

Biji kopi Arabica dan Robusta yang berasal dari berbagai daerah sebelum di Grinder, untuk kemudian diseduh menjadi minuman kopi.

Banyaknya jenis biji kopi yang dapat dikreasikan, membuat Widodo kepincut mempelajarinya. Dia juga rela merogoh kocek jutaan rupiah untuk membeli peralatannya. Ada lima unit peralatan yang dimilikinya untuk membuat kopi. seperti Vietnam Drip,V60, Aeropress, Syphon, dan Rok Presso. Itu belum termasuk grinder atau alat penghalus biji kopi dan perlengkapan lainnya. “Setiap peralatan dapat menciptakan rasa yang berbeda,” ujar pengusaha show room sepeda motor ini.

Bagi pecinta atau penikmat kopi, hanya dengan mencium baunya saja sudah dapat membedakan dari mana kopi itu berasal dan jenis apa kopi. Pada dasarnya ada dua macam kopi, yaitu jenis Arabica dan Robusta. Biji kopi Arabica, cenderung berbentuk lonjong, sedangkan Robusta berbentuk lebih bulat.

Dari segi rasa, kopi Arabica memiliki beragam variasi. Rasanya dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Sebelum disangrai atau roasting (pengolahan biji mentah menjadi matang), aromanya mirip dengan blueberry. Setelah disangrai beraroma buah-buahan manis.

Rasa kopi Robusta variasi rasa cenderung netral. Kadang berasa atau aroma mirip gandum dan sebelum disangrai, beraroma kacang-kacangan. “Kalau dibahas lebih detail banyak sekali. Itu belum termasuk espresso atau blend (campuran Robusta dan Arabica). Disini mayoritas single original. Bisa juga ditambahkan susu. Ini tergantung selera konsumen,” imbuhnya.

Ternyata, hobinya meracik kopi itu menjadi peluang bisnis. Widodo pun memutuskan  membuka usaha perkopian. Selain membuka angkringan dan memproduksi kopi untuk disalurkan pada pemesan yang juga pemilik angkringan. “Ada sepuluh macam, baik kopi Robusta dan Arabica. Setiap kota penghasil, memiliki karateristik dan rasa yang khas,” kata Widodo.

Soal harga, Widodo menyebut sangat bersahabat dan tidak jauh dengan harga minuman kopi pada umumnya. Sembilan tahun belajar, dengan beragam komentar dari teman yang menjadi percobaan, sekarang tinggal memetik hasilnya.

Sehari dia dapat menghabiskan antara 30-40 cangkir perhari. Harganya antara Rp 4.000 – Rp 8.000 percangkir. “Ternyata, usaha kopi yang dihasilkan tidak sepahit bijinya,” pungkasnya. (ase)

Sumber : Harian Pagi Koran Memo

penulis : Angga Prasetya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here