Home Fashion Kakek 93 Tahun Terima Anugerah Maestro Payung Kertas

Kakek 93 Tahun Terima Anugerah Maestro Payung Kertas

709
0
SHARE
Maestro Payung Kertas
Mbah Rasimun melukis payung kertasnya di acara Festival Payung Indonesia, Surakarta, Jawa Tengah (ist)

Di tengah meriahnya Festival Payung Indonesia yang digelar di Pura Mangkunegaran, Solo Jawa Tengah pada 15-17 September 2017 terlihat seorang kakek berusia 93 tahun. Meskipun kondisi pendengarannya mulai berkurang, namun matanya masih cukup teliti, tangannyapun masih cekatan membelah bilah bambu dan membuat lubang-lubang kecil pada bilah bambu untuk kemudian dirakit menjadi sebuah payung.
Pria sepuh itu bernama Rasimun, warga Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3, RT 04/RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Dia baru saja mendapat anugerah dan didapuk menjadi maestro seni payung kertas. Penghargaan itu diserahkan pada penutupan Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (17/9) lalu.
Mbah Rasimun, sapaan akrabnya, mendapat penghargaan dari Sri Paduka Mangkunegoro IX, raja Kasunanan Surakarta. Ini tidak lepas atas dedikasinya yang sangat tinggi dalam melestarikan seni dan budaya Indonesia yakni payung mutho atau biasa disebut payung kertas.
Undangan terkait penghargaan ini kali pertama diterima putra Mbah Rasimun, Rusikin (38), dan Yuyun Sulastri dari Karya Bumi Ngalam (Kabunga) yang selama ini membantu pengembangan karya sang maestro. Keduanya lalu menyampaikan kepada Mbah Rasimun. Mendengar kabar tersebut, Mbah Rasimun pun terbang ke Surakarta, menerima langsung menerima penghargaan tersebut. Meski tak lagi muda, di Surakarta Mbah Rasimun masih mampu menunjukkan kelihaiannya mengukir payung kertas di depan para pengunjung festival payung tersebut.
Rusikin, salah satu putranya mengaku sangat bangga atas penghargaan yang diperoleh ayahnya tersebut. ”Tentunya kami dari keluarga sangat berbangga kepada bapak saya, bapak saya bisa mendapatkan penghargaan, dari Sri Paduka Mangkunegoro IX,” ujar Rusikin
Dia menambahkan, kesuksesan Mbah Rasimun mengangkat Kota Malang di level nasional hingga internasional melalui seni payung kertas memberikan motivasi tersendiri bagi warga sekitar untuk berkreasi mengembangkan seni pembuatan payung. Warga bersama dengan tokoh masyarakat kini sedang aktif berdiskusi untuk mengembangkan Kampung Payung sebagai destinasi wisata Kota Malang. “Warga dan Pak RW akan berembug dan rapat bagaimana nantinya pengembangan untuk Kampung Payung di lokasi Mbah Rasimun tinggal ini,” ujar Rasikin.
Mbah Rasimun adalah pengrajin payung mutho. Payung mutho atau pun dikenal dengan payung kertas merupakan salah satu kerajinan yang kini mulai jarang terlihat, khususnya di kota Malang. Payung Mutho merupakan payung kuno yang terbuat dari bambu dan kertas, serta dihias dengan lukisan tangan. Di Kota Malang, Rasimun bisa dibilang satu-satunya pengrajin payung mutho yang tersisa.
Dia mulai berjualan payung sekitar tahun 1945. Sebelumnya, ia dibantu oleh sang istri, Tumini untuk menghasilkan payung kertas. Bahkan, Rasimun bersama istrinya sanggup menggarap ratusan payung kertas dalam sebulan. Payung-payung tersebut diproduksi untuk memenuhi pesanan yang datang dari Kota Malang dan  luar kota.

Di Kota Malang dulu ada sekitar 15 pengrajin dari tahun 1945 namun sekarang tinggal dirinya satu-satunya pengrajin payung mutho yang tersisa.  “Kalau pertama jualan payung kertas (mutho), saya sudah dari tahun 1945. Sejak Belanda mau masuk Surabaya dulu”, cerita Mbah Rasimun.
Berbagai ukuran payung mulai dari yang kecil, sedang dan besar pernah dibuatnya. Biasanya payung-payung muthonya tersebut dipesan untuk dekorasi, paguyuban tari untuk properti menari hingga untuk acara adat. Diapun menjual dengan harga terjangkau, mulai dari yang kecil dihargainya Rp 20 ribu, ukuran sedang Rp 30 ribu, dan besar sekitar Rp 60 ribu. “Tapi kadang ada yang membeli yang misalnya ukuran sedang dengan harga Rp 30 ribu diberi uang Rp 50 ribu dan kembaliannya disuruh ambil. Ya alhamdulillah rezeki saya,” ungkap kakek 21 cucu tersebut.(*)

Sumber : harian pagi Koran Memo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here