Home Sejarah Mengungkap Misteri Awal Mula Candi Borobudur

Mengungkap Misteri Awal Mula Candi Borobudur

471
0
SHARE

Belum ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah sebenarnya yang membangun Borobudur dan apa kegunaannya. Bukti pembangunan candi dengan latar belakang agama Budha tersebut hanya berdasarkan perkiraan saja. Jika melihat jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9, diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi.

Kurun waktu ini sesuai diperkirakan antara 760 dan 830 M, yang merupakan puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu antara 75 hingga 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.

Masih belum ada kepastian apakah raja di pulau Jawa saat itu menganut agama Hindu, ataukah Budha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat. Akan tetapi temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa adanya kemungkinan mereka beragama Hindu Siwa pada awalnya. Pada kurun waktu itulah dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.

Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 kilometer (6,2 mi) sebelah timur dari Borobudur. Candi Budha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi di dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudah rampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.

Pembangunan candi-candi Buddha — termasuk Borobudur — saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi.[26] Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi.[26] Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya.[27] Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa — yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.[28] Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra,[28] akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Sumber : dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here