Home Berita Menyulap Limbah Menjadi Berkah, Dari Kaca Bekas Jadi Interior Berkelas

Menyulap Limbah Menjadi Berkah, Dari Kaca Bekas Jadi Interior Berkelas

539
0
SHARE

Tidak selamanya barang buangan (limbah), terutama kaca tak dapat digunakan kembali dan selalu berakhir di tempat sampah. Dengan sedikit sentuhan kreatifitas, dan polesan artistik, Supriyanto telah menepis anggapan itu.

Di tangan warga Desa Kaliwungu Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung itulah, limbah kaca yang selama ini berserakan diubah menjadi aneka miniatur hiasan interior rumah sekaligus lampu kamar.

Rumah Supriyanto terlihat seperti bengkel. Tampak pria berusia 42 tahun itu bekerja melekatkan satu per satu potongan kaca menggunakan lem jenis silikon. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, ia telah menghasilkan bentuk miniature pesawat tempur. “Masih kasar, banyak detail yang perlu diselesaikan,” ujar Supriyanto, saat ditemui di bengkel etalase di utara Pasar Hewan Ngunut seperti dikutip dari Harian Pagi Koran Memo.

Begitulah keseharian Supriyanto. Tangan terampilnya telah lihai mengolah potongan – potongan kaca yang bagi sebagian orang tidak bisa digunakan. Dua bulan lalu Supri memikirkan cara untuk memanfaatkan potongan kaca itu menjadi sesuatu yang bernilai. “Namanya limbah, selama ini hanya dibuang begitu saja. Lama-lama kok sayang kalau dibuang,” katanya.

Awalnya, Supriyanto hanya iseng memanfaatkan potongan kaca untuk dirangkai menjadi sebuah asbak. Karena limbah kaca yang dipakai ukurannya terbatas, asbak tersebut hanya berbentuk kotak (persegi). Namun, tidak disangka ternyata asbak tersebut diminati temannya dan dibeli seharga Rp 25.000.

Setelah asbak buatannya laku, Supri, panggilan akrabnya, semakin semangat untuk berinovasi dengan desain. Maka dibuatlah tutup lampu tidur. Bentuknya dibuat mirip candi, dan di dalamnya ada rongga untuk menempatkan bola lampu. “Tidak ada desain khusus, digambar atau bagaimana. Pokoknya dibayangkan saja terus diwujudkan dengan limbah kaca,” tuturnya.

Ternyata tutup lampu buatan Supri itu juga diminati. Mulanya peminatnya hanya teman-teman yang kebetulan melihat di etalase rumahnya. Satu tutup lampu tidur berbentuk candi ini dijual Rp 50.000 per buah. Jika bentuknya lebih rumit, Supri menjual seharga Rp 100.000.

Namun karena hanya kerjaan sambilan, produk limbah kaca ini tidak bisa dipastikan produksinya. Rata-rata satu produk dibuat selama dua hari. Biasanya Supri mengerjakan tutup lampu tidur ini saat tidak ada kerjaan etalase. Atau di sela waktu istirahat, dan setelah bekerja sore hari. “Kalau desainnya rumit bisa lebih dari dua hari. Namanya juga selingan, tidak bisa dikerjakan setelah pekerjaan utama selesai,” katanya.

Bapak satu anak ini baru saja menyelesaikan sebuah lampu tidur berbentuk perahu layar. Supri memasang lampu LED di badan perahu ini. Dalam kondisi gelap, perahu ini memancarkan warna berkilau yang indah. Sebelum diambil pembeli, Supri memasang karya andalannya ini di ruang tamunya.

Kali ini Supri bukan hanya memanfaatkan kaca limbah etalase. Namun juga memanfaatkan beberapa botol bekas. Botol berwarna coklat dan hijau tersebut dimanfaatkan menjadi layar.  Bentuknya sangat detail, hingga bagian-bagian terkecil.  “Kadang jalan ketemu botol (kaca) apa saja diambil. Karena pasti ada bagian yang bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.

Sumber : Harian Pagi Koran Memo

Penulis : Deny Trisdianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here