Home Berita Peserta Lelang Proyek Jalur Sepeda Ekstrim Hanya Satu

Peserta Lelang Proyek Jalur Sepeda Ekstrim Hanya Satu

261
0
SHARE
korupsi jalur sepeda ekstrim

Kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalur sepeda ekstrim oleh Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sidoarjo terus bergulir. Sidang lanjutan kasus proyek yang menggunakan dana APBD tahun anggaran 2015 itu kembali digelar di pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Surabaya di jalan Juanda Sidoarjo, Senin (7/5).

Dilansir dari koranmemo.com, dua orang saksi dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo untuk memberikan keterangan. Kasus yang disinyalir mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 578.083.213,76 ini menyeret 5 orang terdakwa. Yaitu Mulyadi, (46) Mantan Sekertaris Disbudpar Sidoarjo, H. Usman (CV. Sinar Cemerlang), Hadi Purtanto rekanan, Denni (34) rekanan dan Sumartono (53) selaku Konsultan.

Dikutip dari koranmemo.com, Ristanti Widya Ayu Ambariti, warga Wonoayu Kabupaten Sidoarjo, staf PT Surya Indah Cemerlang dalam keterangannya sebagai saksi mengaku mendaftarkan CV Sinar Cemerlang mengikuti lelang proyek tersebut. Ia juga mengaku bahwa melaksanakan perintah dari terdakwa Mulyadi dan Hadi Purtanto.

“Saya daftarkan CV Sinar Cemerlang milik Pak Usman pada bulan September 2015. Stempel, pengisian data-data sampai User Id dan Password CV,” terangnya dalam persidangan seperti dikutip dari koranmemo.com.

Ketika ditanya alasan mendaftarkan perusahaan lain dalam lelang, ia mengaku jika perusahaan tempatnya bekerja sedang dalam status black list. “PT. Surya Indah Cemerlang milik pak Hadi Purwanto saat itu di blacklist, sehingga memakai CV Sinar Cemerlang,” ucapnya.

Ia juga mengaku tidak ada perusahaan lain yang mendaftar dalam lelang tersebut. “Hanya CV Sinar Cemerlang saja. Dan dinyatakan sebagai pemenang lelang setelah saya melihat buktinya dari LPSE,” tambahnya.

Selama pelaksanaan proyek, dirinya mengaku hanya bertugas sebagai pegawai administrasi saja. “Saya hanya sebagai petugas administrasi saja. kalau dilapangan saya kurang paham,” jelasnya.

Staf Rekanan Mengaku Terima Gaji Dari Mulyadi

Kejanggalan mulai muncul ketika JPU bertanya terkait gaji. Jawaban mencengangkan keluar dari saksi yang menyatakan jika sejak tahun 2015, ia menerima gaji dari terdakwa Mulyadi. “Sejak tahun 2015 saya digaji pak Mulyadi. Saya ambil gaji sebesar 4,1 juta. Uang itu kemudian saya bagi untuk 3 pegawai. Dan saya sudah menerimanya selama 12 bulan,” terangnya.

JPU kemudian memanggil saksi atas nama Mega Puspita Sari, staff dari PT. Surya Indah Cemerlang. Warga Desa Bungurasih Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo itu mengaku mengenal terdakwa Denni dan Hadi Purtanto sebagai saudaranya.

Dalam keterangannya, sejak tahun 2015 atau selama proyek berlangsung dirinya menerima gaji dari Mulyadi. “Rp 1,2 juta setiap bulannya. Pembayaran dilakukan lewat rekening mbak Rista,” katanya.

Dirinya juga menyebut jika pembayaran pelaksanaan proyek dilakukan dengan sistem pembayaran keseluruhan. “Tagihan langsung dibayar. Namun setelah sudah selesai pekerjaan,” tambahnya.

Mega juga mengaku jika ia mendapat perintah dari tersangka Hadi Purtanto untuk menandatangani sejumlah berkas. “Ada Flashdisk dari mas Iqbal (staff Mulyadi, Red). Disitu ada file tanda tangan, lalu saya scan,” pungkasnya.

Sementara itu, terdakwa Hadi Purtanto membantah jika dirinya memberikan ID dan Password ke saksi. “Dari keterangan saksi saya membantah keterangan terkait ID dan Password tersebut. Saya sangat hati-hati terkait hal tersebut,” bantahnya.

Sidang dengan rencana memanggil 45 saksi dan dengan total 20 kali agenda persidangan ini dilanjutkan pada hari Senin, (14/5) minggu depan dengan agenda keterangan saksi dari JPU berikutnya.

“Diseleksi, mana saksi yang penting untuk dihadirkan. Namun jangan buru-buru karena harus kejar tayang karena setiap minggunya harus sidang,” ucap hakim ketua I Wayan Sosiawan.

Sementara itu, usai persidangan, penasehat hukum terdakwa Usman, Alex Imawan mengatakan, jika kliennya tidak mengikuti proses pelelangan proyek tersebut. Nama CV. Surya Cemerlang milik kliennya telah dipinjam bendera perusahaannya oleh Terdakwa Hadi Purtanto.

“Pak usman tidak mengetahui proses lelangnya. Penawaran di palsu. Klien kami mengakui jika itu bukan tanda tangannya. Proses lelang juga tidak ikut sama sekali karena sudah didaftarkan lelang,” ujar Alex imawan.

Seperti diberitakan, kasus dugaan korupsi proyek pembangunan jalur sepeda ekstrim yang dibangun di sekitar Jalan Lingkar Timur (JLT) Sidoarjo dilakukan oleh penyidik unit Tipidkor Satuan Reskrim Polresta Sidoarjo. Dan menetapkan 5 tersangka.

Selain 5 tersangka, sejumlah uang tunai sebesar Rp. 210.897.000 dan berbagai dokumen diserahkan ke Kejari Sidoarjo sebagai alat bukti.

Sebanyak 5 tersangka yang terseret dalam kasus korupsi proyek milik Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sidoarjo yang menggunakan dana APBD tahun anggaran 2015 senilaiĀ  Rp.1.742.584.000,00 ini. Yaitu, Mulyadi (46) Mantan Sekertaris Disbudpar Sidoarjo, H. Usman rekanan, Hadi Purtanto rekanan, Denni (34) rekanan dan Sumartono (53) selaku Konsultan.

Para tersangka ini melakukan tindakan yang merugikan keuangan negara total sebesar Rp.578.083.213,76.

Modusnya, mengerjakan pengadaan Proyek yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak, sehingga kualitas pekerjaan jauh dari ketentuan.

Sumber : koranmemo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here