Home BISNIS Sosok Dibalik Callind, Aplikasi Messenger Buatan Indonesia

Sosok Dibalik Callind, Aplikasi Messenger Buatan Indonesia

985
0
SHARE

Sepintas, orang tidak akan menyangka jika Novi Wahyuningsih telah meraih sukses besar di usia 25 tahun. Tutur kata dan tata krama gadis cantik kelahiran kebumen itu mencerminkan bahwa dia adalah sosok gadis desa yang selalu bersikap dan berpenampilan sederhana dan apa adanya.

Namun dibalik keluguannya, ternyata Novi adalah seorang pengusaha sekaligus programer handal. Di usia 25 tahun, Novi telah memegang jabatan sebagai Direktur Utama di sejumlah perusahaan IT (Teknologi Informasi) yang didirikannya. Yakni PT Wahyu Global Abadi, PT Rise Solution International, dan PT Callind Network International.

Berbagai produk IT telah diciptakannya, salah satunya adalah Callind. Aplikasi media sosial mirip dengan WhatsApp, BBM, dan Telegram ini memungkinkan kita melakukan chat privat, broadcast message, berkirim foto, voice call, bahkan hingga video call.

Meski belum diluncurkan secara resmi, aplikasi Callind sudah dapat diunduh di Play Store. “Aplikasi ini akan resmi diluncurkan berbarengan dengan peresmian kantor di Jakarta pada November mendatang,” kata Novi Wahyuningsih saat berbincang dengan SINDO News, Selasa (19/9/2017).

Callind sebenarnya bukan aplikasi chatting buatan Novi pertama kalinya. Pada awal tahun 2015,ia pernah mendulang kesuksesan dengan mengembangkan aplikasi MeoTalk melalui perusahaan Global Century Limited yang berbasis di Malaysia. Layaknya media sosial lain, seperti halnya WhatApp dan BBM, aplikasi ini juga dilengkapi fitur mengobrol dengan tulisan (chating), suara, dan video. Bahkan Aplikasi ini juga menawarkan uang virtual, G-Point yang bisa dibelanjakan di toko yang telah bekerja sama.

Keberhasilan Novi kemudian berlanjut dengan penunjukannya sebagai CEO MeoTalk Indonesia yang bertugas mengembangkan aplikasi chatting itu di Tanah Air. Acara peluncurannya saat itu digelar di Yogyakarta dan diikuti oleh beberapa perwakilan MeoTalk dari negara lain.

Gadis kelahiran Kebumen tersebut ingin mengembangkan diri tanpa terikat dengan pihak lain. Aplikasi MeoTalk ciptaannya telah dilepaskan kepada perusahaan yang menaunginya terdahulu. Kini dia fokus pada Callind yang diklaimnya sebagai aplikasi chatting buatan asli Indonesia. Dia berharap, Callind bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan dunia.

Belajar dari Bisnis MLM

Kesuksesan tidak diraih begitu saja. Sejak menduduki bangku kuliah semester 2 D3 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, anak pasangan Darman (52) dan Rasmi (45) ini mulai mengikuti bisnis Multi Level Marketing (MLM). Ia rela menjual motor kesayangannya seharga Rp 3 juta untuk menjalankan bisnis tersebut.

Berkat ketekunannya, Novi berada di jajaran atas MLM tersebut hanya dalam waktu delapan bulan. Namun setelah itu, gadis berhijab ini memutuskan berhenti karena pergolakan batin melawan sistem bisnis MLM tersebut yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.

“Tapi saya akui dari sini pertama kali belajar bisnis. Saya yang tadinya pendiam dan hanya fokus nilai cumlaude di kampus akhirnya mulai belajar leadership dan marketing,” tutur Novi yang menyesaikan pendidikan sarjananya di STIE Putra Bangsa Bekasi.

Novi kembali fokus kuliah setelah sempat berantakan gara-gara mengikuti bisnis MLM. Dia tekun belajar sambil bekerja untuk menutupi kekurangan kiriman orang tua yang hanya Rp200.000 per bulan. “Pagi sampai sore kuliah, malamnya saya kerja di warnet,” tuturnya tersenyum. Dari kerja menjadi penjaga warnet inilah Novi mulai belajar trading, membuat blog, website, dan sedikit menjadi hacker.

Gadis warga Tepakyang, Kecamatan Adimulyo, Kebumen ini cukup spekulatif. Dia lagi-lagi berani menjual laptopnya Rp3 juta untuk bermain trading forex dan valas secara online. Namun berkat ilmu yang telah dikuasai, modalnya berkembang menjadi Rp25 juta.

Kehidupan Novi bukan tak pernah mengalami kegagalan. Peraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Bina Nusantara Jakarta ini tak terpilih menjadi anggota DPR pada Pemilihan Legislatif 2014 lalu. Salah satu caleg termuda waktu itu gagal mendapatkan suara maksimal dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah VII (Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara). Apakah Novi kapok? Menurutnya, untuk saat ini dia nyaman dengan bisnis yang sedang digeluti. “Setelah perusahaan bagus, baru masuk politik,” ujarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here