Home Budaya Walisongo Mengajar dengan Bahasa Jawa Bukan Bahasa Arab

Walisongo Mengajar dengan Bahasa Jawa Bukan Bahasa Arab

822
0
SHARE

Jika ada orang yang mengatakan Islam itu adalah arab dan arab itu Islam, maka orang itu salah kaprah dan tidak tahu sejarah. Hal itu diungkapkan oleh KH. Agus Sunyoto, sang penulis buku Atlas Walisongo yang saat ini sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Pria kelahiran Surabaya Jawa Timur 21 Agustus 1959 silam ini menyempatkan diri hadir di Kediri dalam rangkaian Hari Santri Nasional.

Selama dua hari, Jumat (3/11) dan Sabtu (4/11), KH Agus Sunyoto memberikan ceramah ilmiahnya dengan tajuk membedah buku ‘Atlas Walisongo’ yang merupakan salah satu karyanya. Buku yang terbit pada tahun 2012 ini sangat laku di Jawa Timur terutama karena keingin tahuan tentang sejarah pembawa agama Islam di nusantara.

Sejarawan muslim terkenal ini menyempatkan diri memberikan wawasan keilmuan di Pondok Pesantren Tafidzul Quran Sirojul Ulum Dusun Semanding Desa Tertek Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Dalam kegiatan yang diadakan oleh Cabang GP Ansor Kabupaten Kediri ini, KH Agus Sunyoto menceritakan tentang Kediri yang merupakan pusat peradaban tempo dulu. Salah satu buktinya adalah keberadaan Kerajaan Kalingga karena nama-namanya sama dengan nama desa yang ada di Kediri.

“Kerajaan Kalingga, kerajaan yang berdiri di abad ke 6 banyak yang mengatakan berada di Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Bisa juga itu berada di Kediri, karena melihat disini ada nama Desa Keling Kecamatan Kepung dan Desa Siman di Kecamatan Puncu. Keling adalah Kalingga, dan kerajaan Kalingga punya ratu yang sangat tersohor yaitu Ratu Sima. Inilah mengapa Kediri bisa dianggap sebagai pusatnya peradaban,” ujarnya.

Selain itu, KH Agus Sunyoto mengungkapkan mengapa Kediri berjuluk Canda Bhirawa. Hal itu karena adanya ritual agama Tantrayana dari sekte Bhirawa Tantra yang terkenal dengan ritual molimo. Ritual itu adalah berkumpulnya orang membuat lingkaran dengan di tengahnya sejumlah daging untuk dimakan. Mulai dari daging unggas, ikan laut, hingga makan daging manusia.

“Dari sini awal mula adanya slamaten yang dibentuk oleh Sunan Bonang untuk menandingi ritual molimo itu. Konsepnya sama, ada masyarakat yang melingkar, di tengahnya ada makanan tapi yang membedakan bukan daging manusia tapi daging ayam kampung,” jelasnya.

Dari itu, KH Agus Sunyoto mengatakan, salah jika ada orang yang tidak memperbolehkan melakukan ritual slametan karena tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Menurutnya, justru itulah mengapa Islam dikatakan rahmatan lil alamin, karena bisa diterima oleh masyarakat dunia dengan menyatu padukan agama dan budaya. Dia mencontohkan, pengajaran Islam yang dilakukan oleh para walisongo dulu yang justru menggunakan aksara Jawa bukan menggunakan bahasa arab sebagai bahasa mereka yang mayoritas berasal dari negara Arab.

“Ini saya sedang mengumpulkan tulisan-tulisan walisongo ketika memberikan pelajaran di pondok pesantren. Ada sekitar 7000 buku yang semuanya ditulis dengan aksara jawa bukan dengan bahasa arab. Maka, ada orang yang mengatakan Islam harus arab dan arab itu adalah Islam itu salah kaprah, berarti dia tidak tahu betul tentang sejarah. Islam orang Indonesia ya seperti ini, mencintai Yang Maha Esa dan melestarikan budaya adat istiadat bangsa kita,” tandasnya.

Sumber : Harian Pagi Koran Memo

Penulis : Zayyin Multazam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here